Label

Selasa, 31 Desember 2013

JENIS-JENIS DAN PENDEKATAN KONSELING KELUARGA



JENIS-JENIS DAN PENDEKATAN KONSELING KELUARGA
(SISTEM KELUARGA, PSIKODINAMIKA, PERILAKU SOSIAL KELUARGA, STRUKTUR KELUARGA, STRATEGI KELUARGA)

Makalah
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Bimbingan dan Konseling Keluarga
Dosen Pengajar : Hj. Mahmudah, S.Ag.,M.Pd.  








Disusun Oleh :
Khofifah                      111111033
Lestri Nurratu              111111038
Lili Qurotul A.S           111111039
Nafisah                        111111046


FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013

I.         PENDAHULUAN
Keluarga adalah lingkungan masyarakat terkecil yang untuk pertama kalinya kita dapat belajar bersosialisasi dengan dunia luar. Keluarga merupakan pondasi awal yang berperan penting terhadap diri kita. Kehidupan keluarga yang harmonis memberikan efek positif bagi setiap anggotanya. Baik dalam psikologisnya maupun biologisnya.
Kadang keluarga merupakan penyebab awal dari permasalahan-permasalah yang dihadapi oleh masing-mansing anggotanya. Karena permasalah keluarga yang sangat kompleks maka kiranya diperlukan melakukan konseling kelluarga. Konseling keluarga pada dasarnya merupakan penerapan konseling pada situasi yang khusus. Konseling keluarga diarahkan untuk membantu seluruh anggota keluarga untuk diarahkan menjadi lebih baik guna membentuk suatu keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah.
Dalam melakukan konseling keluarga terdapat beberaa jenis dan pendekatan untuk memahami setiap persoalan dan berusaha untuk mencoba memecahkannya. Diantaranya adalah konseling dengan menggunakan pendekatan system keluarga, psikodinamika, perilaku social keluarga, struktur keluarga, serta strategi keluarga.
Oleh karena itu, dalam makalah ini kami mencoba untuk membahas beberapa pendekatan yang berkaitan dengan konseling keluarga itu sendiri.
II.      RUMUSAN MASALAH
A.       Bagaimana konseling dengan pendekatan sistem keluarga (Family System Counseling)?
B.       Bagaimana konseling dengan pendekatan psikodinamika keluarga (Psycodinamic Family Counseling)?
C.       Bagaimana konseling dengan pendekatan perilaku sosial keluarga (Behaviour Social  Family Counseling)?
D.       Bagaimana konseling dengan pendekatan structural keluarga (Structural Family Counseling)
E.        Bagaimana konseling dengan pendekatan strategi konseling (Strategi Family Conseling)

III.   PEMBAHASAN
A.    Konseling dengan Pendekatan Sistem Keluarga (Family System Counseling)
Teori sistem adalah istilah umum mengkonsepkan sekelompok elemen yang saling berhubungan, misalnya orang yang berinteraksi sebagai satu entitas yang utuh, misalnya keluarga atau kelompok. Sebagai sebuah konsep, teori sistem “lebih mirip pada suatu cara berfikir daripada teori yang koheren dan standar”. Menurut teori sistem seorang ahli biologi Ludwig Von Bertalanffly bahwa semua organisme yang hidup tersusun atas komponen-komponen yang berinteraksi secara mutual, dan saling mempengaruhi satu sama lain. Fokus sistem teori secara umum adalah bagaimana interaksi dari bagian-bagian dapat mempengaruhi operasi sistem tersebut secara keseluruhan.[1]
Ada sejumlah pendekatan konseling yang didasarkan pada teori sistem. Salah satunya adalah teori sistem Bowen, yang dikembangkan untuk membantu orang membedakan dirinya dari keluarganya.[2]
Murray Bowen merupakan peletak dasar pendekatan sistem. Menurutnya, keluarga itu bermasalah jika keluarga itu tidak berfungsi (disfungsioning family). Keadaan ini terjadi karena anggota keluarga tidak dapat membebaskan dirinya dari peran dan harapan yang mengatur dalam hubungan mereka.[3]
Menurut Bowen, dalam keluarga terdapat kekuatan yang dapat membuat anggota keluarga bersama-sama dan kekuatan itu dapat pula membuat anggota keluarga melawan yang mengarah pada individualitas. Sebagian anggota keluarga tidak dapat menghindari sistem keluarga yang emosional yaitu yang mengarahkan anggota keluarganya mengalami kesulitan (gangguan). Jika hendak menghindar dari keadaan yang tidak fungsional itu, dia harus memisahkan diri dari sistem keluarga. Dengan demikian, dia harus membuat pilihan berdasarkan rasionalitasnya bukan emosionalnya.[4]
Contoh kasus, pasangan suami istri yang menikah pada tingkat kematangan emosional yang sama dibandingan dengan pasangan yang kurang matang, yang lebih rentan mengalami permasalahan dalam hubungan pernikahan mereka, daripada yang lebih matang. Ketika muncul gesekan besar dalam pernikahan, pasangan yang kurang matang cenderung memperlihatkan tingkat fusi yang tinggi (emosi kebersamaan yang tidak terbedakan) atau pemutusan (penghindraan psikologis atau fisik) karena mereka belum memisahkan diri dari keluarga asalnya dengan cara yang sehat, dan belum membentuk konsep diri yang stabil. Ketika ditekan sebagai individu dalam perkawinan, mereka cenderung melakukan triangulasi (memfokuskan diri dari pihak ketiga). Pihak ketiga dapat berupa perkawinan itu sendiri, anak, institusi atau sekolah atau bahkan keluhan somatic. Bagaimanapun juga, hal tersebut mengarah pada interaksi pasangan yang tidak produktif.[5]
Teknik pada pendekatan ini terfokus pada cara untuk menciptakan seorang individu dengan konsep diri yang sehat, yang mampu berinteraksi dengan orang lain dan tidak mengalami ansietas berlebih, setiap kali hubungannya mengalami tekanan. Cara untuk mencapai tujuan ini melibatkan penilaian atas diri sendiri dan keluarga dengan sejumlah cara. Salah satunya melalui konstruksi genogram multigenerasi. Genogram melibatkan informasi yang berhubungan dengan suatu kelurga beserta hubungan masing-masing anggotanya selama setidaknya 3 generasi terakhir. Genogram dapat membantu orang dalam mengumpulkan informasi, hipotesis dan melacak perubahan hubungan dalam konteks peristiwa masa lalu dan kontemporer.
Pendekatan Sistem Bowen memiliki kelebihan dan kekurangan, kelebihan dari sistem ini adalah sebagai berikut :
1.      Pendekatan ini berfokus pada riwayat keluarga multigenerasi dan pentingnya memahami dan menghadapi pola-pola dimasa lalu, agar dapat menghindari pengulangan tingkah laku tertentu dalam hubungan antar pribadi .
2.      Pendekatan ini menggunakan genogram dalam memplot hubungan riwayat, yang merupakan alat spesifik yang asalnya dari pendekatan Bowen.[6]
Sedangkan kekurangan dari pendekatan sistem Bowen adalah sebagai berikut
1.      Pendekatan ini kompleks dan ekstensif. Teorinya tidak dapat dipisahkan dari terapi. Dan jalinan tersebut membuat pendekatan ini lebih mempunyai keterlibatan daripada kebanyakan pendekatan terapi lainnya.
2.      Klien yang dapat memetik keuntungan paling banyak dari teori Bowen adalah yang mempunyai disfungsi berat atau pembedaan diri yang rendah.
3.      Pendekatan ini membutuhkan investasi cukup besar pada berbagai tingkatan, yang mungkin sebagian klien tidak mau atau tidak bisa melakukannya.[7]
B.     Konseling dengan Pendekatan Psikodinamika Keluarga (Psycodinamic Family Counseling)
Sigmund Freud 1896, sebagai pendiri aliran ini mengemukakan pandangannya bahwa struktur kejiwaan manusia sebagian besar terdiri dari alam ketidaksadaran. Alam kesadaran dapat diumpamakan puncak gunung es yang muncul di tengah laut, sedanhkan sebagian besar gunumg es yang terbenam itu adalah alam ketaksadaran manusia. Struktur kepribadian menurut Freud terdiri dari id, ego dan super ego.
Tujuan dan Proses Konseling
Tujuan konseling aliran psikoanalisis adalh untuk membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan hal yang tak disadri menjadi sadar kembali. Proses konseling dititik beratkan pada usaha konselor agar klien dapat menghayati, memhami dan mengenal pengalaman-pengalaman masa kecilnya terutama masa usia 2-5 tahun.[8]
Pada dasarnya teori Freudian atau psikodinamika bersumber dari karya Freud yang digunakan untuk menolong orang yang memiliki permasalahan emosional. Oleh karena itu banyak aspek dalam teori tersebut yang merupakan jawaban atas pertanyaan bagaimana memfasilitasi perubahan terapeutik dalam klien atau pasien. Freud menggunakan ungkapan “where id was, let ego be” untuk merangkum tujuan, dengan kata lain ketimbang di setir oleh kekuatan bawah sadar dan dorongan-dorongan, orang-orang akan menjadi lebih rasional setelah mendapatkan terapi, lebih sadar terhadap kehidupan emosionalnya dan lebih mampu mengontrol perasaannya dengan cara yang tepat. Karena itu tujuan dari psikodinamika adalah mencapai pemahaman yang mendalam terhadap permasalahan seseorang (misalnya akar masa kanak-kanak mereka).[9]
Terdapat beberapa teknik yang digunakan dalam pendekatan psikodinamika, antara lain:
1.      Penggunaan hubungan sistematik antara Klien dan Konselor.
2.      Melakukan identifikasi dan analisis terhadap penolakan dan pertahanan.
3.      Asosiasi bebas atau “katakan apapun yang muncul dalam pikiran”
4.      Menganalisis mimpi dan fantasi.
5.      Interpretasi
6.      Beragam teknik lainnya.[10]

C.    Konseling dengan Pendekatan Perilaku Sosial Keluarga (Behaviour Social  Family Counseling)
Teori tingkah laku pada konseling terfokus pada tingkah laku klien yang luas cakupannya. Seringkali, seseorang mengalami kesulitan karena tingkah laku yang kurang atau berlebihan dari kelaziman. Konselor yang mengambil pendekatan tingkah laku berupaya untuk membantu klien mempelajari cara bertindak yang baru dan tepat / membantunya mengubah dan menghilangkan tindakan yang berlebihan. Pada kasus semacam ini, tingkah laku adaptif menggantikan tingkah laku maladtif dan konselor berfungsi sebagai spesialis pembelajaran bagi kliennya.
Pendekatan konseling tingkah laku sangat popular dalam lingkungan institusional, seperti rumah sakit jiwa atau klinik jiwa. Ini adalah pendekatan yang dipilih untuk klien yang mempunyai masalah-masalah khusus seperti penyimpangan kebiasaan makan, penyalahgunaan obat dan disfungsi psikoseksual. Pendekatan tingkah laku juga berguna dalam menangani kesulitan yang berhubungan dengan kegelisahan, stress, kepercayaan diri, hubungan dengan orang tua dan interaksi sosial. [11]
R. Paul Liberman, seorang Psikiater dari Calivornia, telah menerapkan teori-teori dan prosedur konseling tingkah laku dalam keluarga. Tugas terapis :
1.      Menyebutkan secara panjang lebar mengenai tingkah laku penyesuaian yang buruk (maladaptif behaviour).
2.      Memilih tujuan-tujuan yang masuk akal dari beberapa alternatif, tingkah laku yang sesuai (adaptif behaviour).
3.      Mengarahkan dan membimbing keluarga untuk mengubah tingkah laku yang tak sesuai dengan tingkah laku yang sesuai.
Dalam pengetrapan teori tingkah laku ke dalam konseling keluarga, Liberman menekankan pada tiga hal pokok.
1.        Menciptakan dan memelihara konseling yang positif dengan jalan menggunakan penguat sosial dan model.
2.        Mendiagnosis problem-problem keluarga ke dalam istilah tingkah laku.
3.        Mengimplementasikan prinsip-prinsip tingkah laku dari penguat dan model (contoh) dalam hubungan interpersonal.
Liberman membedakan beberapa tingkah laku konselor yang cenderung mengecilkan hubungan antar konselor dan klien. Bahkan ada beberapa kritik bahwa konseling tingkah laku cenderung menggunakan pendekatan mengajar secara mesin (teaching machine) terhadap perubahan kepribadian.[12]
Dalam membuat penilaian tingkah laku, Liberman menanyakan pada tiap-tiap anggota keluarga bertutut-turut, apakah dia senang melihat perubahan-perubahan dari keluarga lain, dan apakah dia menyukai dibedakannya dengan  dirinya, perbedaan apa yang dikehendaki dilihat dari keluarga lain, jawaban-jwaban dari pertanyaan-pertanyaan itu digunaka sebagai pedoman, sehingga dia dapat membuat pilihan yang seksama terhadap tujuan tingkah laku yang spesifik. Analisis tingkah laku belum selesai sesudah pertemuan pertama, tetapi harus dilakukan secara rutin sampai problem tingkah laku mereka berubah.
Liberman menggunakan model atau permainan peranan dalam melakukan penyembuhan. Model itu dapat salah satu dari konselor atau anggota keluarga. Jika model menujnjukkan tingkah laku yang diinginkan berarti bantuan yang diinginkan positif dan mungkin klien akan menirunya.
Dalam konseling tingkah laku mengutamakan pula adanya kesepakatan antara konselor dan anggota keluarga untuk mengubah problem tingkah laku yang sesuai. Liberman mengatakan bahwa pendekatan tingkah laku pada konseling keluarga memerlukan keuletan tenaga dari konselor.[13]

D.    Konseling dengan Pendekatan Structural Keluarga (Structural Family Counseling)
Gerald H. Zuk seorang ahli psikoterapi dari Philadelphia, mengembangkan konseling keluarga berdasarkan hubungan antara tiga orang atau lebih. Pendekatan structural keluarga merupakan perbaikan dari model dyad, yaitu terapi keluarga berdasarkan hubungan tiga orang dalam keluarga :
a.       Antara ayah – ibu – anak
b.      Antara anak – ayah – anak
c.       Antara anak – ibu – anak
Karena kesulitan atau masalah keluarga tersebut kemungkinan harus melibatkan dua orang atau lebih anggota keluarga yang saling bertentangan. Dalam mengatasi pertentangan keluarga, seorang terapis diharapkan mampu berperan sebagai penengah dan pelerai.[14]
Minuchin (1974)beranggapan bahwa masalah keluarga sering terjadi karena struktur keluarga dan pola transaksi yang dibangun tidak tepat.[15] Mengubah struktur keluarga berarti menyusun kembali keutuhan dan menyembuhkan perpecahan antara dan seputar anggota keluarga. Oleh karena itu, jika dijumpai keluarga yang bernasalah perlu dirumuskan kembali struktur keluarga tersebut dengan memperbaiki transaksi dan pola hubungan yang baru yang lebih sesuai.
Minuchin, mengemukakan beberapa teori berkenaan dengan praktek konseling keluarga struktural :
1.      Keluarga sebagai sistem manusia yang mendasar, dan alternatif-alternatif yang tersedia.
2.      Nilai fleksibilitas sistem dan kjapasitasnya untuk perluasan dan restrukturing (pengstrukturan kembali) seperti dengan mengubah aliansi, koalisi sistem dan subsistem dalam berespon terhadap perubahan keadaan.
3.      Menguji daya resonansi (keadaan respon) sistem keluarga, kesensitifan terhadap aksi anggota lain. Perilaku anggota keluarga bergerak dari amat sensitif/mencurigai/mengawasi hingga membiarkan saja (mas bodoh) dengan kasi (perkataan, perbuatan, kecemasan, keluhan dan lain-lai) anggota keluarga.
4.      Meninjau suasana kehidupan keluarga, menganalisis faktor-faktor penunjang dan faktor-faktor yang menimbulkan stres dalam ekologi keluarga.
5.      Menguji tahap perkembangan keluarga dan penampilan keluarga dalam melakukantugas sesuai dengan tahap tersebut (misalnya: tugas anak umur 12 tahun tugas perkembangannya bagaimana seharusnya; tetapi kenyataannya tugas itu mundur atau terlalu maju).


E.     Konseling dengan Pendekatan Strategi Keluarga (Strategig Family Counseling)
Ada sejumlah konsep dan proses yang harus diterapkan yang berperan untuk strategi family counseling untuk berhasil. Sesi awal adalah salah satu dari proses-proses, dan dipecah menjadi lima bagian yang berbeda, tahap sosial singkat, tahap masalah, tahap interaksional, tujuan-setting panggung, dan akhirnya tahap tugas-pengaturan:[16]
1.      Tahap terapi singkat berusaha untuk mengamati interaksi keluarga, menciptakan suasana tenang dan terbuka untuk sesi, dan mencoba untuk mendapatkan setiap anggota keluarga untuk mengambil bagian dalam sesi.
2.      Tahap masalah adalah di mana terapis menimbulkan pertanyaan kepada klien untuk menentukan apa masalah mereka dan mengapa mereka ada di sana.
3.      Tahap interaksional adalah di mana keluarga didorong untuk mendiskusikan masalah mereka sehingga terapis dapat lebih memahami masalah mereka dan memahami dinamika yang mendasari dalam keluarga. Beberapa dinamika yang terapis keluarga strategis berusaha untuk memahami adalah: hirarki dalam keluarga, koalisi antara anggota keluarga, dan urutan komunikasi yang ada.
4.      Tujuan-setting panggung digunakan untuk menyoroti isu spesifik yang perlu ditangani, masalah ini baik yang diidentifikasi oleh anggota keluarga dan terapis. Selain itu ketika membahas masalah yang diajukan awalnya diidentifikasi oleh keluarga, keluarga dan terapis bekerja sama untuk datang dengan tujuan untuk memperbaiki masalah, dan lebih baik menentukan parameter untuk mencapai tujuan tersebut.
5.      Tahap akhir dari sesi awal adalah tahap tugas-pengaturan. Pada tahap tugas-pengaturan terapis membungkus sesi dengan datang dengan pekerjaan rumah beton atau arahan keluarga dapat lakukan di luar terapi untuk mulai mengubah masalah mereka. Sesi terapi tambahan berusaha untuk mendapatkan pemahaman yang lebih untuk masalah keluarga, dinamika, dan untuk menggali lebih dalam menangani kebutuhan mereka melalui seorang terapis percaya diri, pengendalian, dan penyayang.


IV.   KESIMPULAN
Teori sistem adalah istilah umum mengkonsepkan sekelompok elemen yang saling berhubungan, misalnya orang yang berinteraksi sebagai satu entitas yang utuh, misalnya keluarga atau kelompok. Sebagai sebuah konsep, teori sistem “lebih mirip pada suatu cara berfikir daripada teori yang koheren dan standar”. Menurut teori sistem seorang ahli biologi Ludwig Von Bertalanffly bahwa semua organisme yang hidup tersusun atas komponen-komponen yang berinteraksi secara mutual, dan saling mempengaruhi satu sama lain. Fokus sistem teori secara umum adalah bagaimana interaksi dari bagian-bagian dapat mempengaruhi operasi sistem tersebut secara keseluruhan.
Sigmund Freud 1896, sebagai pendiri aliran ini mengemukakan pandangannya bahwa struktur kejiwaan manusia sebagian besar terdiri dari alam ketidaksadaran. Alam kesadaran dapat diumpamakan puncak gunung es yang muncul di tengah laut, sedanhkan sebagian besar gunumg es yang terbenam itu adalah alam ketaksadaran manusia. Struktur kepribadian menurut Freud terdiri dari id, ego dan super ego.
Teori tingkah laku pada konseling terfokus pada tingkah laku klien yang luas cakupannya. Seringkali, seseorang mengalami kesulitan karena tingkah laku yang kurang atau berlebihan dari kelaziman. Konselor yang mengambil pendekatan tingkah laku berupaya untuk membantu klien mempelajari cara bertindak yang baru dan tepat / membantunya mengubah dan menghilangkan tindakan yang berlebihan. Pada kasus semacam ini, tingkah laku adaptif menggantikan tingkah laku maladtif dan konselor berfungsi sebagai spesialis pembelajaran bagi kliennya.
Gerald H. Zuk seorang ahli psikoterapi dari Philadelphia, mengembangkan konseling keluarga berdasarkan hubungan antara tiga orang atau lebih. Pendekatan structural keluarga merupakan perbaikan dari model dyad, yaitu terapi keluarga berdasarkan hubungan tiga orang dalam keluarga :
a.       Antara ayah – ibu – anak
b.      Antara anak – ayah – anak
c.       Antara anak – ibu – anak
Ada sejumlah konsep dan proses yang harus diterapkan yang berperan untuk strategi family counseling untuk berhasil. Sesi awal adalah salah satu dari proses-proses, dan dipecah menjadi lima bagian yang berbeda, tahap sosial singkat, tahap masalah, tahap interaksional, tujuan-setting panggung, dan akhirnya tahap tugas-pengaturan
V.      PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami paparkan. Saran dan kritik yang membangun selalu kami nantikan demi kesempurnaan  makalah ini dan makalah berikutnya. Semoga ada manfaatnya. Amin.




DAFTAR PUSTAKA
Gladding, Samuel T. 2012.Konseling Profesi yang Menyeluruh Edisi ke 6. (Jakarta : PT Indeks)
Latipun. 2010. Psikologi Konseling Edisi Ketiga. (Malang : UMM Press)
McLeod, John.2006.Pengantar Konseling : Teori dan Studi Kasus.(Jakarta : Kharisma Putra Grafika)
Suwarno, Sayekti Pujo. 1994. Bimbingan dan Konseling Keluarga.( Jogjakarta : Menara Emas Offset )
http://aderahmatillahconseling.wordpress.com/bimbingan-konseling-keluarga/ Resume Buku Konseling Keluarga Prof. DR. H. Sofyan S.Wilis
Wikipedia.com/terapi-strategi-keluarga


[1] Samuel T. Gladding. 2012.Konseling Profesi yang Menyeluruh Edisi ke 6. (Jakarta : PT Indeks) Hal. 274
[2] Ibid. Hal. 275
[3] Latipun. 2010. Psikologi Konseling Edisi Ketiga. (Malang : UMM Press) Hal.140
[4] Ibid. Psikologi Konseling Hal. 140
[5] Op.cit Konseling Profesi yang Menyeluruh Edisi ke 6 Hal. 275-276
[6] Ibid. Konseling Profesi yang Menyeluruh Edisi ke 6 Hal.278
[7] Ibid. Konseling Profesi yang Menyeluruh Edisi ke 6 Hal.278
[8] http://aderahmatillahconseling.wordpress.com/bimbingan-konseling-keluarga/ Resume Buku Konseling Keluarga Prof. DR. H. Sofyan S.Wilis
[9] John McLeod.2006.Pengantar Konseling : Teori dan Studi Kasus.(Jakarta : Kharisma Putra Grafika) Hal. 96
[10] Ibid. Pengantar Konseling : Teori dan Studi Kasus  Hal. 97
[11] Op.cit. Konseling Profesi yang Menyeluruh Edisi ke 6 Hal.260
[12] Sayekti Pujo Suwarno. 1994. Bimbingan dan Konseling Keluarga.( Jogjakarta : Menara Emas Offset ) Hal.100
[13] Ibid. Hal. 101
[14] Ibid, hal: 98 - 98
[15] Latipun. 2010. Psikologi Konseling Edisi Ketiga. (Malang : UMM Press), hal : 141
[16] Wikipedia.com/terapi-strategi-keluarga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar