Label

Sabtu, 23 Maret 2013

Pengaruh Agama Terhadap Kesehatan Mental



       I.            PENDAHULUAN
Menurut Sigmund Freud, penyakit mental disebabkan oleh gejala teanan yang berada pada lapisan ketidak sadaran jiwa manusia. Sejak awal-awal abad kesembilan belas boleh dikataan para ahli dokter mulai menyadari akan adanya hubungan antara penyakit dengan kondisi dan psikis manusia. Hubungan timbale balik ini menyebabkan manusia dapat menderita gangguan fisik yang disebabkan oleh gangguan mental (Somapsikotis)dan sebaliknya gangguan mental dapat menyebabkan penyakit fisik (Psikosomatik). Dan antara factor mental yang didefinisikan sebagai potensial dan menimbulkan gejela tersebut adalah keyakinan agama.
Agama dapat memberikan dampak yang cukup berarti dalam kehidupan manusia, termasuk terhadap kesehatan. Bahkan menurut Mc Guire, agama sebagai system nilai berpengaruh dalam kehidupan masyarakat modern dan berperan dalam membuat perubahan social.
Dalam makalah ini, penulis mencoba menjelaskan secara sederhana mengenai apa itu manusia dan agama, pengaruh agama terhadap esehatan mental, dan terapi keagamaan.
    II.            RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana hubungan Manusia dan Agama ?
2.      Bagaimanakah Pengaruh agama dan kesehatan mental itu?
3.      Fungsi Terapi Keagamaan Terhadap Kesehatan Mental ?
 III.            PEMBAHASAN
A.    Manusia dan Agama
Psikologi agama merupakan salah satu bukti adanya perhatian khusus para ahli psokologi terhadap peran agama dalam ehidupan kejiwaan manusia. Agama dinilai sebagai bagian dari kehidupan pribadi manusia yang erat kaitannya dengan gejala-gejala psikologi.
Agama menurut Freud tampak dalam perilaku manusia sebagai simbolisasi dari ebencian terhadap ayah yang difleksikan dalam bentuk rasa takut kepada tuhan. Secara psikologi agama merupakan ilusi manusia. Namun lain halnya dengan Skinner, seorang psikolog penganut behaviorisme mengatakan bahwa agama memiliki institusi terhadap kehidupan masyarakat. Agama merupakan sebuah isme social yang lahir dari adanya factor penguat sebagai perilaku yang meredakan ketegangan.
Manusia berperilaku agama karena didorong oleh rangsangan hukuman dan hadiah. Menghindari hukuman (siksaan) dan mengharapkan hadiah (pahala). Manusia hanyalah robot yang bergera secara mekanis menurut atas pemberian hukuman dan hadiah.[1]
Menurut Abraham Maslow, salah seorang pemuka psikologi humanistic menyatakan bahwa kebutuhan manusia memiliki kebutuhanyang bertingkat dari yang paling dasar hingga kebutuhan yang paling puncak.
a.       Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan dasar untuk hidup seperti makan, minum, istirahat dsb.
b.      Kebutuhan akan rasa aman yang mendorong orang untuk bebas dari rasa takut dan cemas.
c.       Kebutuhan akan rasa kasih saying, antara lain pemenuhan hubungan antar manusia.
d.      Kebutuhan akan harga diri.
Agama memang tampaknya tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Agama sebagai fitrah manusia telah diinformasikan oleh Al-qur’an:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) tetaplah atas firah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (QS 30:30)
B.     Agama dan Pengaruhnya Terhadap Kesehatan Mental
Kesehatan mental adalah ilmu yang meliputi system tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan rohani. Orang yang sehat mentalnya yaitu orang yang dalam rohani atau dalam hatinya selalu merasa tenang, aman dan tentram..sejumlah kasus yang menunjukkan adanya hubungan antara factor keyakinan dengan kesehatan jiwa atau mental tampanya sudah disadari para ilmuan beberapa abad yang lalu.pengobatan penyakit batin melalui bantuan agama telah banyak dipraktekan orang.
Hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa, terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap Yang Maha Tinggi. Sifat pasrah yang serupa akan memberi sikap optimis pada diri seseorang sehingga akan muncul perasaan positif seperti rasa bahagia, rasa senang, puas, atau rasa aman. Salah satu cabang ilmu jiwa yang tergolong dalam psikologi humanistic dikenal logoterapi (logos berarti makna dan juga rohani). Logoterapi dilandasi falsafah hidup dan wawasan mengenai manusia yang mengakui adanya dimensi social pada kehidupan manusia.
Logoterapi menunjukan tiga bidang kegiatan yang secara potensial memberi peluang kepada seseorang untuk menemukan makna hidup bagi dirinya sendiri. Kegiatan-kegiatan itu adalah :
1.      Kegiatan berkarya, bekerja dan mencipta, serta melaksanakan dengan sebaik-baiknya tugas dan kewajiban masing-masing.
2.      Keyakinan dan penghayatan atas nilai-nilai tertentu (kebenaran, kebajikan, keindahan, keimanan, dll).
3.      Sikap tepat yang diambil dalam keadaan dan penderitaan yang tidak terelakkan lagi.[2]
Suatu kenyataan yang tampak jelas dalam dunia modern yang telah maju atau sedang berkembang yaitu adanya kontradiksi-kontradiksi yang mengganggu kebahagiaan orang dalam hidup. Kemajuan zaman seharusnya membawa kebahagiaan bagi manusia karena segala sesuatu menjadi mudah. Akan tetapi kenyataan yang terjadi kebahagiaan yang terjadi semakin jauh, hidup yang dulunya sukar dalam hal materil kini telah berganti dengan kesukaran mental(psychis). Hal yang demikian disebabakan oleh beberapa factor yaitu: kebutuhan hidup yang menigkat, rasa individualitas dan egois,persaingan dalam hidup,keadaan yang tidak stabil yang tidak diimbangi dengan agama yang kuat.
Kepada tuhan merupakan penolong yang ampuh untuk mengembalikan ketenangan dan keseimbangan jiwa. Agama adalah obat penawar yang sejuk yang akan memadamkan nyala yang bergejolak di dalam hati. Dapat dipastika bahwa agama merupakan unsure yang terpenting dalam membina mental. Tanpa agama rencana-rencana pembangunan tidak akan terlaksana dengan sebaik-baiknya, karena dapatnya seseorang melaksanakan suatu rencana dengan baik tergantung kepada ketenangan jiwanya.[3] Selain itu manusia juga membutuhkan beberapa kebutuhan untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang dirasaan antara lain :
a.       Kebutuhan akan rasa kasih saying
b.      Kebutuhan akan rasa aman
c.       Kebutuhan akan rasa harga diri
d.      Kebutuhan akan rasa bebas
e.       Kebutuhan akan rasa sukses
f.       Kebutuhan akan rasa tahu (mengenal).
C.     Terapi Keagamaan
Orang yang tidak merasa tenang, aman serta tenteram dalam hatinya adalah orang yang sakit rohaninya atau mentalnya. Para ahli psikiatris mengakui bahwa setiap manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar tertentu yang diperlukan untuk melangsungkan proses kehidupannya secara lancar.Tapi dalam kehidupan sehari-hari tak jarang dijumpai bahwa seseorang tak mampu menahan keinginan bagi terpenuhinya kebutuhan bagi dirinya.
Pendekatan terapi keagamaan dapat dirujuk dari informasi al-qur’an. Firman Allah dalam surat yunus:
“ Wahai manusia, sesungguhnya sudah datang dari tuhanmu al-qur’an yang mengandung pengajaran, penawar bagi penyakit batin (jiwa), tuntunan serta rahmat bagi orang-orang yang beriman (Q.S Yunus 57)
Kesehatan mental adalah suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram.
Didalam al-qur’an sebagai dasar dan sumber ajaran islam banyak ditemukan ayat-ayat yang berhubungan dengan ketenangan dan kebahagiaan jiwa, diantaranya :
a.       Ayat tentang kebahagiaan
Firman Allah
“ dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan merekalah orang-orang yang menang. (QS Ali Imron: 104)
b.      Ayat tentang ketenangan jiwa
Siapa yang bertakwa dan berbuat baik, maka ia tidak akan merasa takut dan sedih.. (QS al-araf)
Jika terjadi kesalahan yang akhirnya membawa kepada penyesalan orang yang bersangutan, maka agama memberi jalan untuk mengembalikan ketenangan batin dengan minta ampun kepada tuhan.
Tidak adanya pegertian terhadap agama, menyebabkan orang tidak bisa menentramkan hatinya sendiri. Agama dalam kehidupan sehari-hari dapat membentengi orang dari kejatuhan kepada gangguan jiwa dan dapat pula mengembalikan kesehatan jiwa bagi orang yang gelisah. Sembahyang, berdoa, dan permohonan ampun kepada Allah merupakan cara-cara pelegaan batin yang akan mengembalikan ketentraman dan ketenangan.[4]
 IV.            KESIMPULAN
Psikologi agama merupakan salah satu bukti adanya perhatian khusus para ahli psokologi terhadap peran agama dalam ehidupan kejiwaan manusia. Agama dinilai sebagai bagian dari kehidupan pribadi manusia yang erat kaitannya dengan gejala-gejala psikologi.
Kesehatan mental adalah ilmu yang meliputi system tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan rohani. Orang yang sehat mentalnya yaitu orang yang dalam rohani atau dalam hatinya selalu merasa tenang, aman dan tentram..sejumlah kasus yang menunjukkan adanya hubungan antara factor keyakinan dengan kesehatan jiwa atau mental tampanya sudah disadari para ilmuan beberapa abad yang lalu.pengobatan penyakit batin melalui bantuan agama telah banyak dipraktekan orang.
Hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa, terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap Yang Maha Tinggi. Sifat pasrah yang serupa akan memberi sikap optimis pada diri seseorang sehingga akan muncul perasaan positif seperti rasa bahagia, rasa senang, puas, atau rasa aman.
Orang yang tidak merasa tenang, aman serta tenteram dalam hatinya adalah orang yang sakit rohaninya atau mentalnya. Para ahli psikiatris mengakui bahwa setiap manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar tertentu yang diperlukan untuk melangsungkan proses kehidupannya secara lancar.Tapi dalam kehidupan sehari-hari tak jarang dijumpai bahwa seseorang tak mampu menahan keinginan bagi terpenuhinya kebutuhan bagi dirinya.

    V.            PENUTUP
Demikian makalah yang dapat kami sampaikan kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak kekurangannya maka dari itu, segala kritik dan saran yag membangun sangat kami nantikan guna untuk menyempurnakan makalah kami berikutnya. Semoga makalah ini ada guna dan manfaatnya baik kami pribadi maupun para pembaca yang budiman.













DAFTAR PUSTAKA
Darajat, Zakiah, Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, (Jakarta: CV Haji Masagung. 1993)
Djalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.1996)



[1] Djalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.1996), hal. 133
[2] Ibid, Djalaluddin, hal. 144
[3] Zakiah Darajat, Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, (Jakarta: CV Haji Masagung. 1993), hal. 88
[4] Zakiah Darajat, Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, (Jakarta: CV Haji Masagung. 1993), hal.78

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar