Label

Sabtu, 23 Maret 2013

Dakwah Dalam Pengertian Lughowi



I.                   PENDAHULUAN
Dakwah merupakan aktivitas yang begitu lekat dengan kaum muslimin. Begitu dekatnya, sehingga hampir seluruh lapisan masyarakat terlibat didalamnya. Sedangkan dakwah islamiah adalah Risalah terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Sebagai wahyu dari Allah dalam bentuk kitab yang tidak ada kebatilan di dalamnya, baik di depan atau dibelakangnya, dengan kalam-Nya yang bernilai mukjizatdan yang ditulis di dalam mushaf  yang diriwayatkan dari Nabi Saw.dengan sanad yang mutawatir, yang membcanya bernilai ibadah.
Dakwah yang diinginkan dan yang wajib bagi kaum muslimin untuk melaksanakannya adalah dakwah yang bertujuan dan berorientasi pada: membangun masyarakat islam, dakwah dengan melakukan perbaikan pada masyarakat islam yang terkena musibah,memelihara kelangsungan dakwahdikalangan masyarakat yang telahberpegang pada kebenaran.
Dakwah dalam pengertian bahasa bentuk asdar dari kata           (fi’il madzi) dan                (fi’il mudhori) yang artinya adalah memanggil (to call), mengundang (to invite), mengajak (to sammer), menyeru (to propo), mendorong (to urge) dan memohon (to pray). Didalam al-Quran dapat di jumpai yaitu Ad-da’wat ila qadhiyat, An-Nida artinya memanggil, Menyeru , ad-du’a ila sya’i, . Suatu usaha berupa perkataan atau perbuatan untuk menarik manusia kesuatu aliran atau agama tersebut , dan  Memohon dan meminta.
II.                RUMUSAN MASALAH    
1.    Arti Dakwah Dalam Pengertian Lughowi
III.             PEMBAHASAN
Pengertian dakwah sebagai bentuk asdar dari kata        دعا (fi’il madzi) dan    يدعو            (fi’il mudhori) yang artinya adalah memanggil (to call), mengundang (to invite), mengajak (to sammer), menyeru (to propo), mendorong (to urge) dan memohon (to pray).[1]
Dakwah dalam pengertian tersebut dapat dijumpai dalam ayat-ayat Al-qur’an antara lain :
1.    Ad-da’wat ila qadhiyat, artinya menegaskannya atau membelanya, baik terhadap yang hakataupun yang batil, yang positif maupun yang negatif.
Diantara menyeru kepada yang batil adalah kisah yang dijelaskan dalam Al-qur’an tentang Nabi Yusuf sebagai berikut:
قال ربّ السّجن احبّ التى ممّا يدعوننى
Yusuf berkata : “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukaidari pada memenuhi “ajakan” mereka kepadaku”.
Maksud dari kata dakwah diatas adalah kepatuhan kepada wanita-wanita dan terjerumus dalam dosa, sebagaimana sabda Rasullah Saw.kepada kaum Aus dan Khazraj ketika mereka bersiap-siap untuk berperang.
والله يدعواالى دارالسّلا م
Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (syurga) (Yunus: 25).
Didalam suratnya, Rasullah Saw. Berbicara kepada Heraclius, “Saya mengajak kamu dengan di’ayah(dakwah),” maksudnya dakwah islam, yaitu kalimat syahadah dan ajaran Allah. Oleh karena itu orang beriman di masa Fir’aun berkata, “Wahai kaumku, bagaimana kaum ini, aku menyeru kamu kepadakeselamatantetapi kamu malah menyeru kemereka (Al-Mukmin: 41)
Dengan ayat-ayat tersebut, jelaslah bagi kita bahwa ada dakwah menuju surga dan ada pula ke neraka.
Dengan demikian secara etimologi                لفة  pengertian dakwah dan tabligh itu merupakan suatu prosespenyampaian (tabligh) pesan-pesan tertentu yang berupa ajakan atau seruan dengan tujuan agar orng lain memenuhi ajakan tersebut.[2]
2.    An-Nida artinya memanggil; da’a Fulanun ila Fulanah, artinya si Fulan mengundang si Fulanah.
3.    Menyeru , ad-du’a ila sya’i, artinya menyeru dan mendorong sesuatu.
4.    Suatu usaha berupa perkataan atau perbuatan untuk menarik manusia kesuatu aliran atau agama tersebut (Al-Misbah Al-Munir, pada kalimat da’a...)
5.    Memohon dan meminta, ini yang sering disebut dengan istilah berdo’a.[3]
Allah Swt. Berfirman,
Dan Allah menyeru (manusia ) ke Darussalam(surga)...
Yang dimaksud disini adalah Allah megajak hamba-Nya untuk melakukan sesuatu yang menyebabkan mereka masuk ke surga, yaitu berpegang teguh kepada agamanya. Dengan agama itulah Allah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab-Nya. Orang-orang yang memenuhi seruan ini, mereka adalah hizbullah, dan hizbullah itulah orang-orang yang beruntung. Allah Swt. Berfirman, ingatlah, sesungguhnya hizbullah (golongan Allah) itulah yang beruntung karena mereka memenuhi seruan orang yang menyeru kepaa Allah (Rasul) dan beriman kepada-Nya. Setan juga memiliki bizb (kelompok) dan ia mengajak kelompoknya untuk menjadi penghuni neraka. Allah berfirman,
“Sesungguhnya ia (setan) mengajak pendukungnya agar menjadi penghuni neraka”.
Hizb Asy-Syaitban itulah orang-orang yang merugi, karena mereka memenuhi seruannya dan menentang para utusan Allah yang mulia. Oleh karena itu, mereka akan datang kelakdihari kiamat dalam hal menyesal, karena mereka tidak mau menyambut orang yang menyeru kepada Allah. Mereka berkata sebagaimana dijelaskan oleh Al-Quran,
وانذر الناس بوم ياتيهم العذاب فيقول الذين ظلمواربنااخرنا الى اجل قريب نجبدعوتك ونتبع الرسل
Ya Tuhan kami, kmbalikanlah (kami kedunia) walaupun dalam waktu yang singkat, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan akan mengikuti rasul-rasul. ( ibrahim: 44).
Atas dasar itulah maka ada orang yang mengajak ke arah ketaatan dan berbuat kebijakan, ada pula orang yang mengajak ke arah kemaksiatan dan kemungkaran. Karenanya, Rasulullah Saw. Disebut sebagai seorang dai.Allah berfirman,
يايها النبىّ اناارسلنك شهداونديرا
وداعيا الى الله باذنه وسراجامنيرا
Hai Nabi, sesungguinya kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan membawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi dai (penyeru) kepada agama Allah dengan ijin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi. (Al-Ahzab: 45-46)
Jin juga berkata ketika mendengar Al-Quran dibaca,
يقو منا اجيبو اداعى الله وءامنوابه يغفرلكم مّن دبوبكم ويجركم من عذاب اليم
Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu, dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.(Al-Ahqaf: 31)
Dalam kamus bahasa Lisan Al-‘Arab dikatakan bahwa pengertian du’at adalah orang-orang yang mengajak manusia untuk berbai’atpada petunjuk atau kesesatan.Bentuk tunggalnya adalah da’i atau da’iyah, yang artinya orang yang mengajak kepada agama atau kepada bid’ah. Dalam kata da’iyah, huruf ba-nya berfungsi untuk mubalaghah (fungsi superlatif), bahwa Nabi Saw. Adalah da’i Allah Swt. Demikian juga kata “mu’adzin” di dalam kitab At-Tahdzib. Dikatakan bahwa “mu’adzim” adalah da’i dan Nabi adalah da’i umat atau yang mengajak umat untuk bertauhid kepada Allah dan taat kepadanya. (Lisan Al-‘Arab: 14/259)
Atas dasar itulah maka istilah da’i atau da’iyah berarti orang yang mengajak pada petunjuk atau kesesatan.
Setiap da’i memiliki ciri khas, tergantung apa yang ingin ia dakwhkan. Imam Ibnul Qayyim berkata, “Kata du’at adalah jamak dari da’i, seperti kata qadhi dan qudhat, dan kata rami dan rumat. Disandarkannya kata itu kepada Allah (dakwah ilallah)adalah karena spesifikasinya, yaitu para da’i yang khusus menyeru kepada agama Allahberibadah kepada-Nya , bermakrifat dan mahabah kepada-Nya.
Da’i ilallah adalah orang yang berusaha untuk mengajak manusia dengan perkataan dan perbuatannya kepada islam, menerapkan manhajnya, memeluk akidahnya, dan melaksanakan syariatnya.

IV.             KESIMPULAN
Pengertian dakwah secara bahasa yaitu sebagai bentuk asdar dari kata           (fi’il madzi) dan                (fi’il mudhori) yang artinya adalah memanggil (to call), mengundang (to invite), mengajak (to sammer), menyeru (to propo), mendorong (to urge) dan memohon (to pray).
Dakwah dalam pengertian tersebut dapat dijumpai dalam ayat-ayat Al-qur’an antara lain :
1.    Ad-da’wat ila qadhiyat, artinya menegaskannya atau membelanya, baik terhadap yang hakataupun yang batil, yang positif maupun yang negatif. Sedangkan secara etimologi           لفة       pengertian dakwah dan tabligh itu merupakan suatu prosespenyampaian (tabligh) pesan-pesan tertentu yang berupa ajakan atau seruan dengan tujuan agar orang lain memenuhi ajakan tersebut.
2.    An-Nida artinya memanggil; da’a Fulanun ila Fulanah, artinya si Fulan mengundang si Fulanah.
3.    Menyeru , ad-du’a ila sya’i, artinya menyeru dan mendorong sesuatu.
4.    Suatu usaha berupa perkataan atau perbuatan untuk menarik manusia kesuatu aliran atau agama tersebut (Al-Misbah Al-Munir, pada kalimat da’a...)
5.    Memohon dan meminta, ini yang sering disebut dengan istilah berdo’a.

V.                PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami tulis, kami menyadari dalam penyusunan makalah ini banyak cacat dan kurang baik dari penyusunan kata maupun penyampaian dalam kalimat. Oleh karena itukami sangat berharap kritik maupunsaran dari pembaca, demi kesempurnaan makalah kami berikutnya. Kami berharap makalah ini berguna bagi kita semua.



DAFTAR PUSTAKA
Abdul ‘Aziz, Jum’ah Amin, Ad-Dakwah, Qawa’id wa Ushul (Solo : PT Era Adicitra Intermedia, 2011)
Muriah, Siti, Metodologi Dakwah Kontemporer (Yogyakarta : Mitra Pustaka, 2000)







[1] Dra.Siti Muriah, Metodologi Dakwah Kontemporer (Yogyakarta : Mitra Pustaka, 2000) hal.1
[2] Ibid hal 2
[3] Jum’ah Amin Abdul ‘Aziz, Ad-Dakwah, Qawa’id wa Ushul (Solo : PT Era Adicitra Intermedia, 2011) hal 24

Tidak ada komentar:

Posting Komentar